Pentingnya Networking untuk Kesuksesan Diri

Apa itu networking? Apa pentingnya networking untuk kesuksesan bisnis Anda? Yuk, baca lebih mendalam tentang networking agar bisnis Anda bisa lebih sukses.

 

Networking
https://pixabay.com/

 

Apa itu networking? Apa pentingnya networking terhadap perkembangan bisnis dan karir?

Networking dalam dunia bisnis dan karir disebut juga jaringan pertemanan atau relasi.

Setiap orang di dunia ini pasti membutuhkan peran orang lain agar dapat hidup secara normal. Jika Anda ingin bisnis dan karir Anda semakin melejit, maka Anda harus memperluas dan memelihara jaringan pertemanan dan relasi (network) Anda.

Hampir setiap karir atau bisnis yang melejit umumnya diperoleh dari networking, seperti rekomendasi teman, saudara, atau kenalan yang secara tidak sengaja bertemu.

Tidak dapat dimungkiri bahwa entrepreneur atau pebisnis dalam hal mencari partner kerja atau rekan bisnis juga sering meminta rekomendasi dari orang-orang terpercaya di sekitarnya.

Oleh karena itu, setiap orang baru yang Anda temui dan Anda kenal adalah sebuah peluang dan jalan sukses untuk karir dan bisnis Anda.

Memperluas jaringan pertemanan dapat mengembangkan bisnis dan karir Anda baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun bukan berarti kita menjadi pamrih ketika berkenalan dengan seseorang.

Tanpa kita berharap pun, menjalin hubungan baik dengan banyak orang akan memberikan hal positif terhadap karir dan bisnis kita.

Selama kita ikhlas untuk berbuat baik dan selalu berpikiran positif dalam menjalin hubungan dengan orang lain, kita bisa mendapatkan segala bantuan dari orang-orang tak terduga.

 

Baca juga:  3 Hal Berikut Akan Menjadikan Anda Entrepreneur Sukses

 

Tiga Jenis Pertemanan Menurut Aristoteles

Seorang filsuf bernama Aristoteles membagi pertemanan menjadi 3 jenis:

  1. Pertemanan karena kebutuhan,
  2. Pertemanan karena kesenangan,
  3. Pertemanan karena niat yang tulus.

Mari kita bahas masing-masing jenis pertemanan di atas.

1. Pertemanan karena kebutuhan adalah pertemanan yang didasarkan pada keuntungan dan kebutuhan semata. Ini adalah jenis pertemanan yang tidak abadi. Jika seseorang sudah tidak lagi dapat diambil keuntungannya, maka ia akan segera dilupakan.

Contoh konkretnya adalah teman kantor. Kita bisa berteman dengan rekan kerja dengan sangat akrab. Bahkan sedih dan senang dilalui bersama.

Namun jika teman sudah resign atau mengundurkan dari dari kantor, maka biasanya pertemanan yang dulunya sangat akrab, menjadi renggang atau bahkan terlupakan.

Contoh lainnya adalah rekan bisnis. Anda mungkin seminggu sekali mengunjungi kantor dan rumah rekan bisnis Anda selama ia masih berpartner dengan Anda.

Namun ketika dia sudah tidak lagi menjadi rekan bisnis Anda, Anda hanya akan mengunjunginya beberapa minggu sekali atau bahkan tidak mengunjunginya sama sekali, sekalipun Anda masih berkomunikasi.

Hubungan jenis ini adalah hubungan yang paling banyak terjadi dan hampir setiap orang pernah melakukannya sepanjang hidupnya.

 

2. Pertemanan karena kesenangan adalah pertemanan yang didasarkan pada kesenangan yang sama. Hubungan jenis ini akan hilang ketika sudah tidak lagi sering bertemu untuk melakukan aktivitas yang disenangi bersama.

Contoh pertemanan jenis ini adalah pertemanan dalam organisasi sekolah atau kampus.

Ceritanya hampir mirip dengan pertemanan karena kebutuhan, tidak abadi.

Ketika sudah tidak lagi satu organisasi kampus dan kerja di tempat yang berbeda, komunikasinya akan semakin berkurang hingga menghilang sama sekali.

Adakah di antara Anda yang sudah lupa teman-teman semasa sekolah?

Mungkin pertemanan Anda termasuk dalam kategori ini.

 

3. Pertemanan dengan niat yang tulus adalah pertemanan yang cukup abadi. Pertemanan jenis ini hanya terjadi pada segelintir orang. Dengan kata lain, sulit menjalin pertemanan dengan niat yang tulus.

Pertemanan jenis ini biasanya terbentuk sejak kecil atau usia sekolah dan terus terpelihara hingga dewasa bahkan usia lanjut. Beberapa orang menyebutnya pertemanan sejati atau pertemanan abadi.

Namun tidak jarang pertemanan yang awalnya dilandasi oleh kebutuhan dan kepentingan atau kesenangan bisa menjadi pertemanan sejati.

Pertemanan yang abadi tidak harus selalu melakukan aktivitas bersama dan tidak pula harus memiliki profesi dan kesenangan yang sama.

Pertemanan dengan niat yang tulus sudah tidak lagi memikirkan untung dan rugi atau butuh dan tidak butuh.

Mereka yang berteman dengan tulus juga lebih mudah berkomunikasi tanpa adanya kepentingan, sekadar bercengkerama untuk bertanya kabar. Karenanya, hubungan pertemanan ini hampir bisa disamakan dengan hubungan keluarga.

 

Networking Menurut Dr. Frank Minirth

Di dalam bukunya yang berjudul “You Can“, Dr. Frank Minirth menyebutkan bahwa networking merupakan seni berkomunikasi satu sama lain, berbagi ide, informasi dan sumber daya untuk meraih kesuksesan atau kelompok.

Namun, membangun networking bukan hanya dengan tahu nama, nomor telepon, dan alamat emailnya saja. Networking yang baik bisa terjadi karena adanya komunikasi dua arah dan saling menguntungkan.

Networking yang baik harus dibangun dengan dasar nilai-nilai yang sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebagai contoh dalam sebuah seminar atau workshop entreprenuer, Anda harus bisa mendapatkan kenalan yang sesuai dengan Anda untuk menjalin sebuah hubungan bisnis.

Orang-orang yang menghadiri seminar tersebut memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan Anda, termasuk juga pengisi materinya.

 

Bagaimana Menjalin Hubungan Pertemanan atau Networking yang Baik?

Hampir semua orang, termasuk saya dan Anda,  pasti pernah salah paham dengan orang lain atau membuat orang lain menjadi salah paham.

Maka itulah pentingnya kita perlu belajar berkomunikasi, terutama dalam menyampaikan informasi dan pesan dengan cara yang baik dan benar sehingga mendapatkan respon yang tepat.

 

The most basic and powerful way to connect to another person is to listen. Just listen. Perhaps the most important thing we ever give each other is our attention.  A loving silence often has far more power to heal and to connect than the most well-intentioned words.  ― Rachel Naomi Remen

 

Quotes di atas jika diartikan secara harfiah mengatakan bahwa cara terbaik agar kita dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain adalah dengan mendengarkan.

Kata-kata yang bermaksud baik terkadang tidak mendapatkan respon yang baik. Bahkan tidak adanya percakapan justru bisa membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih baik.

Karenanya, yang sering diyakini orang, teman yang baik adalah teman yang mau dijadikan tempat curhat (curahan hati) dan mau mendengarkan keluh kesah.

 

Ilmu berteman baik selanjutnya adalah melakukan hal-hal sederhana namun mengena di hati seperti mengulang nama orang yang baru Anda kenal untuk memulai percakapan.

Contoh kalimat sederhana yang bisa Anda gunakan misalnya, “Pak Budi sebenarnya orang Medan atau orang Jawa?”, “Pak Budi bawa produk apa ke sini? Boleh saya lihat?”, “Pak Budi sibuk, tidak? Mau mancing bareng saya? Saya ada kelebihan alat pancing, nih.”

Secara psikologi, hal tersebut dapat membuat lawan bicara Anda merasa dihargai dan dia juga akan mencoba untuk mengingat dan akan melakukan hal yang sama seperti Anda.

Agar semakin mempererat hubungan pertemanan, Anda bisa melakukan kontak lanjutan setelah pertemuan pertama.

Tidak harus dengan bertemu keesokan harinya. Hanya dengan mengucapkan terima kasih sudah diberi kartu nama melalui pesan seingkat (SMS atau chat) saja sudah cukup. Hal yang sederhana namun powerful.

 

Selanjutnya, jangan lupa untuk tersenyum. Kekuatan senyum tidak kalah hebat dengan dua ilmu sebelumnya.

Banyak yang mengajarkan betapa pentingnya untuk tersenyum.

Sebagai contoh pepatah China, “Orang yang tidak bisa tersenyum dilarang membuka toko!”.

Atau dalam Islam terdapat sebuah hadist yang jika diartikan “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu”.

Namun senyuman tidak hanya terbatas kepada orang lain. Kepada diri sendiri pun kita harus tersenyum, misalnya ketika bercermin.

Coba saja Anda cemberut atau marah ketika bercermin, Anda pasti tidak akan betah melihat wajah Anda berlama-lama di cermin.

 

Berbagi merupakan sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam berbagai kesempatan. Maka, berbagilah denagns sesama meski dalam bentuk senyuman kecil yang tulus.

Jangan bersikap egois terhadap apa yang sudah Anda miliki, karena itu semua hanyalan titipan Tuhan. Bagikanlah setiap rezeki Anda untuk membantu atau meringankan beban orang lain, kenal maupun tidak kenal.

Rezeki yang dimaksud tidak hanya berupa harta. Rezeki bisa juga berarti ilmu, tenaga, dan waktu

Misal jika Anda punya keahlian dalam bidang penjualan, Anda bisa membagikan ilmu Anda secara gratis melalui social media (Facebook, Instagram, dan Twitter), melalui video sharing (Youtube), podcast, ataupun sebuah blog.

Contoh lainnya adalah jika Anda memiliki kemampuan public speaking yang bagus, Anda bisa berbagi motivasi dengan orang lain.

Jadi, hal sederhana yang harus Anda lakukan adalah mengenali kelebihan-kelebihan Anda yang mungkin orang lain juga butuhkan.

Saling melengkapi dengan berbagi banyak hal dengan rekan bisnis Anda, merupakan bentuk networking yang baik dan akan membuat hubungan bisnis terjalin lebih kuat dan lebih lama.

 

Baca juga: Inovasi Tidak Sekadar Baru dan Berbeda

 

Kebangkan Bisnis Anda Melalui Networking

Ada tiga faktor utama untuk mengembangkan sebuah bisnis, yaitu dengan uang, teknologi, dan jaringan bisnis (network).

Jika Anda pernah bermain permainan monopoli, untuk mengembangkan pendapatan Anda, Anda harus memiliki uang yang banyak agar dapat membeli tanah dan properti. Dengan memiliki banyak properti, Anda bisa mematok harga sewa yang lebih besar kepada lawan main Anda.

Begitu pula dengan bisnis di dunia nyata, dengan uang yang banyak Anda akan relatif lebih mudah untuk mengembangkan bisnis Anda dengan membuka cabang baru.

 

Faktor kedua yakni teknologi, yang berhubungan dengan automasi pekerjaan yang berulang atau menggantikan peran manusia sehingga mempermudah pekerjaan agar lebih efisien dari sisi tenaga, waktu, atau mungkin biaya.

Sebagai contoh penggunaan internet dalam hal penjualan. Anda bisa memanfaatkan social media, marketplace, atau kontak teman-teman Anda untuk melakukan pemasaran produk.

Kemajuan teknologi informasi saat ini tidak mengharuskan penjual dan pembeli bertemu langsung. Agar konsumen lebih memahami produk Anda dengan cepat dan mudah, Anda bisa membagikan informasi produk Anda melalui foto, video, atau langsung video call.

 

Selanjutnya, cara mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan network (koneksi/jaringan bisnis) Anda.

Dengan network yang luas, akan lebih banyak hal yang dapat Anda lakukan dengan lebih mudah.

Contohnya, Anda tinggal di Jakarta dan Anda memiliki kenalan di Surabaya. Pada suatu waktu, Anda akan melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya.

Dengan Anda memiliki kenalan di Surabaya, Anda dapat dengan mudah menanyakan informasi tentang Kota Surabaya dan Anda tidak lagi bingung tentang hotel yang bagus karena Anda bisa meminta rekomendasi hotel dari kenalan Anda tersebut.

Atau bahkan jika Anda beruntung, Anda akan diberi kesempatan untuk menginap gratis di rumah kenalan Anda.

Network atau relasi biasanya wajib dibahas ketika seseorang merancang sebuah usaha atau bisnis.

Saat Anda menyusun sebuah rencana bisnis, perlu dijelaskan juga partner kunci dalam model usaha Anda. Karena memang seorang entrepreneur tidak akan bisa sukses tanpa bekerja sama dengan orng lain.

Antara entrepreneur yang satu dengan yang lain pasti memiliki networking yang unik dan berbeda. Sangat jarang relasi antar enterpreneur itu identik.

Hal ini disebabkan karena kenalan dan teman setiap orang itu berbeda, otomatis mereka akan bekerjasama dengan orang-orang yang berbeda pula.

 

Pada tahun 2010, Saras D. Sarasvathy, seorang profesor dan peneliti tentang entrepreneurship pernah mengemukakan tentang Prinsip Efektuitas (Effectuation).

Efektuitas adalah prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang saat menghadapi ketidakpastian situasi.

Ada lima prinsip efektuitas yang dikemukakan oleh Profesor Saras D. Sarasvathy, dan yang paling utama adalah prinsip Bird in Hand atau segala sesuatu dari apa yang kita miliki.

Seseorang menjadi entrepreneur berangkat dari mengenal diri sendiri dengan memahami apa yang dimiliki, siapa dia, siapa saja yang dia kenal, dan apa yang bisa dilakukan sebagai entrepreneur.

Entrepreneur yang satu dengan yang lain akan selalu unik, tidak semua entrepreneur bisa melakukan apa yang entrepreneur lain lakukan. Sekalipun pembimbing entrepreneurship itu sendiri.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya risiko yang harus dihadapi oleh masing-masing individu.

Seorang entrepreneur yang sukses tahu apa yang akan dia lakukan, tahu apa yang harus dia keluarkan, serta tahu risiko apa yang akan mereka hadapi. Prinsip ini disebut dengan Affordable Loss.

Mereka siap merugi jika apa yang mereka bangun menemui kegagalan.

 

Prinsip lain yang juga berkaitan yaitu Crazy Quilt, yang jika diartikan adalah kumpulan kain perca yang yang dijahit dan disatukan sehingga menghasilkan lembaran kain utuh yang bisa dimanfaatkan menjadi selimut, alas tidur, keset, atau bahkan baju.

Dalam bidang entrepreneurship, crazy quilt berarti membangun jaringan yang luas dari berbagai kepentingan yang terhubung dan saling melengkapi satu sama lain untuk mewujudkan tujuan dan mencapai kesuksesan.

Sebagai seorang entrepreneur, Anda harus mampu menemukan dan melihat berbagai peluang melalui orang-orang yang Anda temui dan Anda kenal.

Selain itu, Anda juga dituntut untuk bisa menjalin komitmen kerja sama yang erat dan positif, kerjasama yang saling menguntungkan dan bisa bertahan dalam jangka waktu lama.

 

Prinsip berikutnya adalah Lemonade, yang juga berasal dari ungkapan Amerika.

Lemonade menggambarkan tentang buah lemon yang memiliki rasa asam dan tidak semua orang menyukainya.

Namun dengan prinsip lemonade, kita tidak akan menyalahkan buah lemon yang rasanya asam. Kita bisa membuatnya menjadi minuman yang segar dan nikmat, atau sebagai campuran minuman atau masakan.

Menjadi entrepreneur haruslah bermental kuat dan kreatif. Karena entrepreneur dituntut untuk mampu mengubah sesuatu yang tidak enak menjadi peluang yang menguntungkan bagi dia.

 

Prinsip kelima adalah Pilot in The Plane. Diibaratkan kehidupan kita adalah sebuah pesawat dan kita adalah pilot yang mengendalikan pesawat.

Kita yang memiliki kendali, mau dikemanakan arah pesawat kita. Terbang ke atas, ke kanan, ke kiri, atau menukikkannya ke bawah.

Ingat kalau pesawat yang sudah terbang itu tidak bisa terbang mundur, yang artinya jika di depan ada badai dan awan hitam, Anda hanya bisa terus maju ke kanan, ke kiri, naik, turun, atau membiarkannya jatuh.

Dapat diartikan bahwan sebagai entrepreneur tidak ada kata mundur karena berhadapan dengan masalah.

 

Baca juga: Tips Work from Home yang Benar agar Tidak Mudah Lelah

 

Kesimpulannya adalah kembangkan networking Anda, pelihara hubungan dengan relasi Anda, serta berbuat baiklah kepada siapapun dalam bentuk apapun, sesuai dengan kelebihan yang kita miliki agar tujuan bisnis dan karir kita terus menanjak dan dapat memberikan semakin banyak manfaat kepada yang lain.

Bagikan kepada teman-teman Anda...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *