Tiga Cara Agar Anak Tahu Pentingnya Social Distancing

Ajari Anak Anda tentang Pentingnya Social Distancing
http://www.powerofpositivity.com/

Social Distancing, pembatasan sosial satu sama lain ini membuat banyak orang merasa dilema. Jika dilakukan, penyebaran virus yang sedang marak bisa ditekan hingga batas minimal, namun dengan konsekuensi banyak pekerjaan yang tertunda, hingga permasalahan dengan pengendalian emosi.

Di sisi lain, jika tidak dilakukan, maka pandemi ini tidak akan kunjung selesai. Meski menjadi dilema, kita tidak bisa memilih untuk tidak. Kita wajib melakukannya. Karenanya, permasalahan yang terjadi selama adanya social distancing, wajib menjadi perhatian kita.

Satu di antaranya yang krusial adalah masalah pengendalian anak, terutama anak-anak di bawah sepuluh tahun.

Sebagai orang dewasa, kita harus memaklumi jika anak kita yang terbiasa bermain di luar, bersekolah dan bertemu dengan teman sekolahnya, terpaksa harus “terpenjara” di rumah. Jujur saja, kita pun merasa bosan bukan main, bukan?

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Tentu saja, pertama karena mereka bosan. Kedua, karena mungkin mereka kurang paham tentang social distancing.

Jadi, bagaimana cara membuat mereka tidak bosan dan paham tentang social distancing?

Sebelum Anda memikirkan bagaimana cara membuat mereka tidak bosan, Anda wajib memberi pemahaman yang baik dan benar kepada anak Anda tentang pembatasan sosial.

Saya yakin untuk memahami makna pembatasan sosial sangat mudah bagi kita, orang dewasa. Namun, tidak demikian untuk anak-anak kita.

Perlu cara khusus untuk membuat anak-anak paham dengan baik benar. Untuk itulah artikel ini ada, membantu Anda untuk bisa membuat anak-anak Anda paham akan social distancing.

Berikut adalah caranya.

 

Pertama: Jelaskan Mengapa Social Distancing Itu Penting

Jelaskan Mengapa Social Distancing Itu Penting
https://www.dream.co.id/

1. Bertanyalah pada Anak Anda

Taktik umpan balik, selalu berhasil untuk para guru yang ingin mengukur pengetahuan muridnya. Taktik ini pula yang harus Anda lakukan kali pertama. Ukur pengetahuan dan pemahaman anak Anda tentang penyebab pertama social distancing, yakni Corona virus.

Bertanyalah dengan santai, sambil mengobrol dan menghabiskan camilan siang hari.

Dek, tahu corona virus, nggak?”

“Dek, mama mau tanya, dong. Menurut adek, corona virus itu apa?”

Perhatikan, jika perlu catat jawaban anak Anda. Amati cara anak Anda menjawab pertanyaan. Apakah mereka merasa takut, panik, atau benci. Hal ini akan menentukan cara terbaik untuk menyampaikan informasi yang benar kepada anak Anda.

Juga perhatikan kebenaran jawaban anak Anda. Jika ada yang salah, Anda wajib untuk mengoreksinya dengan pemahaman yang lebih mudah dipahami anak-anak.

Ingat, ya, memberi informasi yang cukup dan mudah dipahami jauh lebih penting daripada memberikan informasi yang banyak tapi tidak membuat hati tenang.

 

2. Yakinkan mereka dengan jawaban Anda

Kebanyakan dari anak-anak yang merasa takut dengan rasa sakit. Maka, tidak heran jika anak-anak lebih merasa takut dan panik, ketimbang benci pada pandemi ini.

Hal ini sangat normal. Bukankah kita yang dewasa pun awalnya ketakutan dengan corona virus?

Namun, yakinkan anak Anda untuk tidak terlalu khawatir terhadap pandemi ini. Katakan pada mereka apa saja yang perlu mereka lakukan. Beritahu dengan bahasa anak, bahwa semua orang dewasa sedang berjuang untuk melindungi anak-anak mereka.

Adek jangan khawatir, ya. Selama adek rajin mencuci tangan, tidak menyentuh wajah, menggunakan masker, dan tetap di rumah, adek bisa main di luar lagi nanti.”

“Adek tahu, mama, ayah, dokter, sampai presiden juga sedang usaha, lho. Biar adek dan teman-teman adek tidak sakit. Jadi, adek nggak usah takut, ya.”

Berikan fakta pengetahuan pada anak Anda, misalnya menurut CDC (Centers of Disease Control and Prevention) anak-anak lebih mampu bertahan terhadap penyebarab Covid-19 daripada orang dewasa. Sebab, rerata korban yang terjangkit virus adalah orang berusia dewasa. Sedangkan anak-anak yang dilaporkan terjangkit, masih tergolong kasus ringan dan kemungkinan besar sembuh.

Intinya, buat anak Anda tidak merasa khawatir dengan informasi yang benar. Selalu buat mereka tenang dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan menyenangkan.

 

3. Beritahu mereka, virus bisa ditularkan orang tanpa gejala

Informasi tentang Covid-19 sangat penting untuk diketahui semua orang, tidak terkecuali anak Anda.

Meski anak-anak belum bisa mengingat data angka sebaik orang dewasa, mereka wajib tahu segala informasi secara garis besar agar mereka bisa lebih berhati-hati.

Termasuk informasi tentang penularan virus oleh orang tanpa gejala yang signifikan. Jelaskan bagaimana virus menyebar dari orang yang tampak sehat kepada orang yang tidak menggunakan pelindung diri.

Dengan mengetahui hal tersebut, Anda bisa meminta anak Anda untuk selalu menjaga jarak dari orang lain, bahkan tetangga Anda. Anda juga harus mewajibkan mereka untuk selalu memakai masker dan membawa sabun tangan cair.

“Dek, orang yang kelihatan sehat, bisa jadi membawa virus, lho. Nanti setelah dua minggu, baru, deh, kelihatan sakitnya. Nah, selama dua minggu orangnya bisa nularin ke banyak orang yang nggak tahu kalau dia sakit. Jadi adek harus hati-hati, ya. Pakai masker, jangan pegang wajah, dan selalu cuci tangan. Oke?”

 

4. Beri tahu anak Anda bahwa social distancing dapat membantu menghentikan penyebaran virus

Anda sudah memberikan pemahaman tentang virus dan langkah untuk menjaga diri dari penularan. Setelah itu, Anda perlu memberitahu anak Anda tentang pentingnya social distancing.

Daripada memberi mereka perintah, cobalah untuk memberikan mereka analogi sebagai contoh yang mudah dipahami anak-anak.

“Dek, kalau sebuah rumah kotor, lalu adek masuk rumah itu, kira-kira adek ikutan jadi kotor, nggak? Pasti iya, dong. Biar adek nggak ikutan kotor, adek nggak boleh masuk rumah dulu. Sama seperti orang sakit karena virus. Biar adek nggak sakit juga, adek nggak boleh ketemu orang yang sakit karena virus. Harus jaga diri di rumah.”

Jangan lupa untuk memberi penekanan bahwa social distancing adalah satu-satunya cara termudah untuk bisa keluar dari masa pandemi.

 

5. Diskusi tentang perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar

Ada banyak perubahan yang terjadi selama masa pandemi ini.

Sekolah diliburkan, mall dan tempat wisata ditutup, orang tua bekerja di rumah, hingga pembatasan penggunaan transportasi umum secara ketat.

Anak Anda pasti tahu tentang hal itu. Namun, belum tentu mereka memahaminya.

Bisa jadi anak Anda merasa takut dan khawatir tanpa Anda sadari. Karenanya, Anda wajib memberikan pengertian tentang perubahan-perubahan tersebut.

Pertama, tanyakan pada anak Anda perubahan apa yang mereka ketahui. Jelaskan pada mereka secara lebih rinci tentang perubahan-perubahan tersebut.

Kemudian, katakan pada mereka bahwa perubahan tersebut adalah upaya untuk melindungi masyarakat dari penyebaran virus. Beritahu mereka bahwa perubahan kondisi tersebut kemungkinan akan berkembang.

Lalu, yakinkan bahwa segala perubahan tersebut akan mengembalikan masa normal sesegera mungkin.

“Sekarang banyak tempat umum ditutup, termasuk sekolah, mall yang sering kita datangi, sampai kebun binatang favorit adek. Tapi ini semua dilakukan agar adek, ibu, ayah, dan semua orang tetap sehat, tidak tertular virus. Tenang, nggak selamanya. Kalau kita nurut anjuran pemerintan, kita bisa jalan-jalan ke luar lagi nanti.”

 

6. Cobalah berempati pada anak Anda jika mereka marah

Anak-anak memiliki emosi yang cenderung labil. Mungkin mereka paham, tapi mereka belum tentu menerimanya. Mereka bisa saja lebih khawatir, sedih, bahkan marah setelah memahami penjelasan Anda.

Siapa sih yang suka “dikurung” di rumah sendiri?

Orang dewasa pun pasti mudah bosan, apalagi anak-anak.

Jika Anda sudah memberikan pemahaman dan anak Anda sedih kecewa, hingga membuatnya marah dan tidak mau mengerjakan tugas sekolahnya, Anda pasti pusing.

Anda punya pekerjaan yang harus diselesaikan dan anak Anda sedang sedih.

Jangan lari. Jangan biarkan anak Anda sendirian. Jangan berharap, “Ah, nanti juga mereka akan paham sendiri.”

Meski benar, tapi kapan? Kesedihan dan kemarahan akan memengaruhi kondisi psikis anak Anda.

Cobalah untuk menjadi bijaksana dengan memosisikan diri Anda sebagai anak-anak. Katakan pada mereka bahwa sebagai orang dewasa, Anda juga tidak nyaman dengan kondisi ini.

Berikan solusi pada masalah emosi mereka dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

“Iya, ibu tahu adek sedih. Ibu juga sedih nggak bisa ketemu teman kerja ibu. Tapi, kita kan masih bisa video call sama mereka? Nanti ibu temani main juga setelah kerja, ya? Atau mau masak bareng?”

“Adek pasti kangen kakek ya? Kakek ngangenin, sih, ya. Tapi, sekarang kita belum bisa ketemu kakek. Nanti, setelah pandeminya selesai, kita main ke rumah kakek. Kalau adek kangen banget, gimana kalau nanti sore kita video call kakek?”

“Ayah juga kangen nenek, lho. Apalagi nasi pecelnya. Hehe. Gimana kalau kita kirimin nenek hadiah terus kita video call  biar tahu pas nenek buka hadiah? Kayaknya seru, ya?”

 

Baca juga: Tips Work from Home yang Benar agar Tidak Mudah Lelah

 

Kedua: Ajari Anak-Anak Bagaimana Social Distancing

Ajari Anak-Anak Bagaimana Social Distancing
https://www.freepik.com/

1. Jelaskan bahwa keluarga Anda perlu berada di rumah sesering mungkin

Meski sudah dijelaskan, kadang anak masih terus menagih waktu main di luar. Mereka mungkin betah di rumah, tapi tidak akan lama.

Sebagai orang tua, Anda wajib sabar menghadapi anak-anak. Ulangi lagi penjelasan pentingnya social distancing dan yakinkan bahwa pandemi ini bisa segera selesai jika social distancing dilakukan dengan benar.

“Dek, semakin banyak orang yang ketemu kita, semakin mudah kita kena virus. Makanya, kita harus sering-sering di rumah. Adek nggak mau sakit, kan? Tenang, nanti kalau sudah tidak ada orang yang kena virus, kita bisa main di luar lagi.”

 

2. Diskusikan dengan anak Anda mengapa mereka harus belajar di rumah

Ketika semua kegiatan belajar dialihkan di rumah karena gedung dekolah ditutup, otomatis anak Anda akan menghabiskan waktu belajarnya di rumah.

Anak-anak pasti bosan dan enggan untuk menerima perubahan suasana belajarnya. Bahkan, bisa jadi mereka menolak untuk memahami alasan belajar di rumah ketika tidak ada teman maupun gurunya di sekolah yang sakit.

Nah, inilah tugas Anda. Berikan pemahaman dan diskusikan kegiatan belajar di rumah.

“Dek, kan mama sudah pernah bilang, orang yang terkena virus, tidak selalu kelihatan sakit. Siapa yang tahu kalau adek ketemu orang yang tertular virus di sekolah? Makanya, Pak guru dan Bu guru meminta adek belajar di rumah, biar adek nggak sakit.”

Masalah nilai dan kenaikan kelas juga bisa memicu keengganan mereka belajar di rumah. Mungkin anak Anda khawatir dengan nilai rapornya, atau sebaliknya, menjadi malas karena tidak ada guru yang menilai mereka secara langsung.

Agar anak Anda tidak khawatir atau malas, Anda bisa memberikan pengertian yang bisa disampaikan dengan kalimat berikut.

“Dek, setiap hari Bu guru minta mama fotoin PR adek, lho. Jadi, setiap tugas dan PR adek pasti dinilai sama Bu guru. Adek harus semangat belajar, ya. Nanti kalau sudah masuk sekolah, Bu guru pasti ngasih tahu nilainya ke adek biar adek bisa naik kelas.”

 

3. Jelaskan kepada anak Anda mengapa tidak aman untuk bermain di luar rumah

Selain sekolah diliburkan, taman bermain juga ditutup. Anak Anda pasti lebih sedih ketika tahu mereka tidak bisa bermain dengan teman-temannya untuk waktu yang lama.

Meskipun kita sudah memberitahu mereka tentang pentingnya menjaga jarak, mereka pasti akan memohon agar bisa bermain di luar.

Tidak tega, sih. Tapi, lebih baik tega daripada anak beresiko tertular virus.

Jangan lelah, ya, parents. Saya tahu Anda, dan saya, juga ingin segera bertemu teman sekantor dan bisa berwisata seperti biasanya. Tapi, kita harus mampu menahan diri.

Keselamatan keluarga adalah yang utama.

Jangan berhenti untuk terus memberikan penjelasan kepada anak tentang alasan mereka dilarang bermain di luar.

“Ini cuma sementara, kok, Dek. Ayah tahu adek kangen sama Nabil dan Alfi, kan? Nabil dan Alfi juga pasti kangen adek. Ayah juga kangen sama teman-teman ayah. Tapi kita harus jaga diri biar nggak ketularan virus. Kalau adek kangen sama mereka, gimana kalau nanti kita video call sama mereka? Nanti ayah yang bilang ke ayah mereka, deh.”

 

4. Beri tahu mereka untuk berjarak kurang lebih 2 meter dengan orang lain saat di tempat umum

Tidak ada yang tahu dengan tepat kapan social distancing ini akan berakhir.

Meski diwajibkan untuk tetap di rumah, pasti ada kalanya Anda akan kelaur rumah untuk masalah yang urgent. Berbelanja kebutuhan pokok atau membeli stok obat-obatan misalnya.

Ketika melakukan aktivitas di luar, bisa jadi anak Anda akan merengek ikut.

Tidak tega sekali rasanya membiarkan mereka kebosanan di rumah. Anda bisa mengajak mereka untuk turut serta bersama Anda ke luar rumah. namun dengan catatan.

Tegaskan lagi pada anak Anda tentang kewajiban menjaga jarak dari orang lain. Siapapun itu.

Jelaskan pada mereka bahwa menjaga jarak itu adalah kewajiban dan hak orang lain. Kita wajib menjaga jarak agar tidak tertular virus, begitu juga orang lain perlu rasa aman dengan menjaga jarak dari kita.

“Dek, adek boleh ikut. Tapi, nanti kalau adek ketemu orang lain, adek jaga jarak, ya. Minimal lima langkah, ya. Adek juga wajib pakai masker. Kan kita nggak tahu orang itu sakit atau nggak. Makanya kita harus jaga diri. Gimana? Kalau adek mau, kita berangkat bareng nanti.”

 

Ketiga: Buatlah Pengalaman yang Menyenangkan bagi Seluruh Anggota Keluarga

Memasak-bersama-anak
https://www.shutterstock.com

1. Ajak anak Anda untuk melakukan video call dengan teman-temannya

Meski di rumah saja, bukan berarti kita tidak bisa bertatap muka dengan teman dan kerabat. Bisa, banget!

Karena itu, beritahu anak Anda agar mereka tidak perlu merasa sedih. Ajak anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk berinteraksi secara virtual.

Jelaskan dengan perlahan kepada anak Anda cara agar mereka bisa mengobrol dengan teman-temannya melalui Whatsapp, Skype, atau Facebook Messenger menggunakan smartphone atau komputer.

Selain itu, agar anak Anda tetap merasa senang selama di rumah, biarkan ia bermain game online dengan teman-temannya, atau bisa juga menonton film animasi khusus yang disukai anak Anda.

Tentu saja Anda wajib mengawasi anak-anak Anda selama kegiatan tersebut, apalagi jika mereka masih terlalu kecil. Selalu beri batasan waktu agar mereka tidak lupa dengan tugas sekolahnya.

 

2. Ajari anak Anda untuk melakukan hal yang bermanfaat sebagai alternatif hiburan lain.

Kegiatan menyenangkan, sudah. Terkadang jika dilakukan berulang-ulang, kegiatan menyenangkan pun bisa jadi membosankan.

Menjadi orang tua yang kreatif sangat dibutuhkan, ya?

Di samping melakukan kegiatan yang menyenangkan, ajak dan ajari anak Anda untuk belajar hal baru yang bermanfaat dengan menyenangkan.

Ada banyak hal bermanfaat yang bisa Anda lakukan bersama anak Anda, yang bahkan tidak diajarkan di sekolah mereka, misalnya

  • Membuat kue kering
  • Menulis surat lewat pos
  • Menanam bunga dan sayuran
  • Membuat baju boneka
  • Memasak masakan favorit bersama
  • Membuat kerajinan tangan dari koran bekas
  • Merakit mainan dari kayu

Dan masih ada banyak hal bermanfaat lainnya. Percaya, deh, dengan mengajarkan hal-hal bermanfaat tersebut, Anda bisa menambah skill anak Anda tanpa ia sadari.

3. Nikmati kegiatan keluarga yang biasanya tidak dapat dilakukan di hari-hari biasa

Sebelumnya, Anda dan anak-anak Anda tidak sering bertemu karena mereka menghabiskan waktu terbanyak di sekolah dan belajar. Yah, mungkin seminggu atau sebulan sekali Anda sekeluarga berlibur.

Tapi, sebagai orang tua Anda merasa bahwa waktunya sangat kurang. Interaksi orang tua – anak menjadi cukup renggang seiring dengan bertambahnya usia mereka.

Nah, sekarang adalah saatnya, Parents.

Anda bisa merencanakan kegiatan bersama keluarga yang menyenangkan selama di rumah. Kegiatan yang biasanya hanya bisa Anda lakukan ketika berlibur atau berekreasi, bisa Anda lakukan di rumah.

Apa saja?

Berikut opsi kegiatan yang bisa menjadi referensi Anda untuk beraktivitas bersama

  • Menonton film bersama di ruang keluarga ditemani dengan pop corn
  • Bermain monolopy atau ular tangga di sore hari
  • Berkemah di halaman rumah atau di ruang tamu
  • Membuat mini show dengan pertunjukan menyanyi, berpuisi, menari, hingga bermusik
  • Membuat Garden Party di halaman rumah di malam hari sambil melihat langit cerah

Aktivitas-aktivitas tersebut bisa dilakukan sekeluarga, lho. Jadi bisa mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Rencanakan dan diskusikan dengan anak dan suami/istri Anda sebelum melakukannya agar menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu mendokumentasikan kegiatan keluarga Anda lalu melihatnya bersama. Pasti seru, deh!

 

4. Pergi ke taman untuk berjalan-jalan dan berolahraga bersama

Social Distancing meminta kita untuk menjaga jarak dengan orang lain secara sosial. Namun bukan berarti kita benar-benar tidak boleh ke luar rumah.

Sebagai mahluk hidup, kita membutuhkan sinar matahari dan kegiatan fisik yang menyehatkan. Karena itu, Anda tidak perlu takut berjalan-jalan ke luar rumah selama Anda memastikan untuk selalu menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain, selalu menggunakan masker, dan menghindari menyentuh benda-benda di tempat umum.

Selama di rumah, Anda perlu sesekali ke luar rumah. Ajaklah keluarga Anda untuk berolahraga dan mendapatkan udara segar di taman, setidaknya sekali dalam seminggu.

Dengan begitu, Anda sekeluarga tidak jenuh dan bisa menambah happy mood selama Social Distancing.

 

Bagaimana, Parents?

Semoga dengan membaca artikel ini, Anda tidak bingung lagi ketika menghadapi anak-anak Anda selama Social Distancing.

Selalu berpikiran positif, bersyukur, dan manfaatkan waktu sebaik mungkin.

Semoga Anda sekeluarga selalu sehat dan bahagia, ya!

 

Baca juga: Ide Bisnis Sampingan dari Hobi? Berikut ini 10 Di Antaranya

 


Disclaimer: Seluruh konten dari artikel ini  berasal dari https://www.wikihow.com/Help-Children-Understand-Social-Distancing

Bagikan kepada teman-teman Anda...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *